9,056
likes
1,621
comments
daily view 0
monthly view 0

Share

Live Analytics

Comments 0

Mempertanyakan Keputusan Pemindahan 400 triliun SAL ke Himbara Oleh Menkeu Purbaya Analytics Table

Income Estimates for Mempertanyakan Keputusan Pemindahan 400 triliun SAL ke Himbara Oleh Menkeu Purbaya

Based on this YouTube video's total view count of 398K views and industry-standard rates, the estimated total earning is $279 - $797 through ad revenue. Historical data is not yet available to calculate daily, weekly, or monthly averages.

About Mempertanyakan Keputusan Pemindahan 400 triliun SAL ke Himbara Oleh Menkeu Purbaya

Explore Mempertanyakan Keputusan Pemindahan 400 triliun SAL ke Himbara Oleh Menkeu Purbaya with 398,447 views, 9,056 likes, and 1,621 comments. Experience the impact of this video content that has captured audience attention.

Apakah benar masalah ekonomi Indonesia saat ini adalah kekurangan likuiditas? Belakangan pemerintah menempatkan dana SAL (Saldo Anggaran Lebih) hingga sekitar Rp400 triliun di Himbara dengan alasan menjaga likuiditas dan mendorong pertumbuhan kredit. Bahkan setelah penempatan Rp200 triliun sebelumnya dinilai belum memberikan hasil sesuai harapan, pemerintah memilih menambah lagi jumlahnya. Pertanyaannya sederhana. Kalau saat suku bunga masih lebih rendah masyarakat dan dunia usaha saja belum banyak mengambil kredit, mengapa sekarang ketika biaya pinjaman lebih mahal justru diyakini tambahan likuiditas akan menyelesaikan masalah? Di video ini kita akan membedah kebijakan tersebut dari sudut pandang ekonomi, mulai dari konsep likuiditas, transmisi kebijakan moneter, fungsi SAL, hingga risiko ketika bank BUMN semakin banyak digunakan untuk menjalankan program pemerintah seperti Kopdes Merah Putih dan SPPG. Kita juga akan membahas data dari Bank Indonesia, OJK, serta berbagai pernyataan resmi pemerintah untuk melihat apakah benar bottleneck ekonomi Indonesia berada pada sisi likuiditas, atau justru pada permintaan kredit, kepercayaan pelaku usaha, dan lemahnya konsumsi masyarakat. Seperti biasa, tujuan video ini bukan menyerang individu, melainkan menguji apakah sebuah kebijakan benar-benar didukung oleh data dan logika ekonomi. Karena kebijakan publik yang baik seharusnya lahir dari diagnosis yang benar. Sebab ketika diagnosisnya keliru, obat sebanyak apa pun belum tentu menyelesaikan penyakitnya. Apakah masalahnya di MBG, SPPG, Kopdes, Koperasi Desa Merah putih? atau hal lain? Selamat menonton. SOURCE : Riset BI soal bank lending channel di Indonesia : https://www.bi.go.id/id/publikasi/kajian/Documents/The_Bank_Lending_Channel_Revisited_Evidence_from_Indonesia_Evidence_from_Indonesia.pdf Siaran Pers bank Indonesia : https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/Rapat-Berkala-KSSK-III-2026.aspx Rilis Gaikindo soal penjualan mobil : https://www.gaikindo.or.id/10-mobil-terlaris-whole-sales-januari-mei-2026-toyota-masih-teratas-byd-naik-peringkat/ Riset OJK mengenai penempatan dana pemerintah pada masa pandemi : https://www.ojk.go.id/id/data-dan-statistik/research/prosiding/Documents/BRKP%20Vol.3%2C%20No.1%2C%20November%202021.pdf

About YouTube Real-Time View Count

With SocialCounts.org’s view counter, track your YouTube video’s live view count and YouTube likes count in real time with fast, reliable updates.

Watch every YouTube video live view count rise with our real-time YouTube views tracker—built for accuracy and minimal delay.

Follow YouTube real time views as they happen, using our dedicated view counter for YouTube videos.

Get up-to-date live view count on YouTube and see real-time growth with SocialCounts.org’s smart tracking tools.

Embed Widget

Parameters:

  • fullscreen=true - Fullscreen counter
  • graph=true - Live graph chart
  • counter=0/1/2 - Select counter (0=likes, 1=views, 2=comments)
URL

Click to copy the embed URL to your clipboard